Publikasi Ilmiah

Publikasi ilmiah adalah sistem publikasi yang dilakukan berdasarkan peer review dalam rangka mencapai tingkay obyektivitas setinggi mungkin (Wikipedia). Publikasi ilmiah tentu sangat tidak asing buat para peneliti maupun mahasiswa pasca sarjana. Buat peneliti, publikasi ilmiah selain sebagai cara untuk mempublikasikan hasil penelitian juga merupakan syarat untuk kenaikan pangkat. Untuk mahasiswa pasca sarjana, publikasi menjadi syarat untuk kelulusan. Tentu diperlukan hasil penelitian yang berkualitas untuk dapat dipublikasikan di sebuah jurnal ilmiah dengan proses review yang ketat. Hasil penelitian yang berkualitas ditentukan dari beberapa faktor, diantaranya kedalaman berpikir peneliti yang bersangkutan dan juga dana penelitiannya.

Isu publikasi ilmiah di Indonesia sedang hangat-hangatnya satu minggu terakhir ini. Bahkan sampai menjadi topik khusus di Kompas. Ajang diskusi di Facebook juga cukup ramai, setidaknya di group PERPIKA dan Keluarga Besar Gyeongsan yang saya ikuti :). Hal ini karena kebijakan dari Dirjen Dikti yang mewajibkan mahasiswa S1, S2 dan S3 harus mempunyai publikasi ilmiah sebagai syarat kelulusan. Komentarnya cukup beragam, dari yang setuju sampai yang tidak setuju. Ada yang mempermasalahkan fasilitas yang diberikan pemerintah tidak cukup baik sehingga wajar jumlah publikasi ilmiah Indonesia sedikit. Fasilitas yang dimaksud adalah instrumen/peralatan dan dana penelitian. Ada juga yang mempermasalahkan jumlah jurnal yang terbatas di Indonesia sehingga tidak akan mampu menampung semua publikasi ilmiah mahasiswa S1 yang akan lulus. Sebagai gambaran dengan jumlah 3.000 lebih perguruan tinggi di Indonesia, setidaknya setiap tahun ada 750.000 calon sarjana (Kompas). Hal ini akan berdampak pada waktu lulus yang lebih lama, lebih jauh lagi tentu akan mempengaruhi tingkat akreditasi dari program studi tersebut. Ada juga yang komplain, mengapa perbandingannya negara tetangga.

Pendapat saya sendiri, saya setuju dengan surat edaran tersebut tapi tidak dengan kewajiban publikasi untuk S1. Untuk S2 dan S3, saya rasa memang sudah saatnya untuk diwajibkan membuat publikasi ilmiah sebagai syarat lulus. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah menerapkan hal ini walaupun tidak dalam aturan tertulis. Surat edaran Dirjen Dikti ini juga mempertegas aturan tidak tertulis tersebut. Departemen tempat saya menuntut ilmu sekarang ini mewajibkan 3 publikasi ilmiah sebagai persyaratan lulus dengan rincian, 2 jurnal SCI dan 1 jurnal lokal. Pada kenyataannya persyaratan dari setiap Professor berbeda-beda tapi yang pasti tidak akan kurang dari syarat minimal yang saya sebutkan di atas. Jika mahasiswa S3 di Indonesia dapat mempublikasikan satu saja makalah ilmiah di jurnal internasional, saya rasa kita mampu mengejar ketinggalan dari negara tetangga bahkan mungkin lebih dengan melihat sumber daya manusia Indonesia. Surat edaran ini juga akan memacu program studi S3 untuk meningkatkan kualitasnya dari segi penelitian karena hakikatnya ujung tombak penelitian dan publikasi adalah mahasiswa S3. Seorang Professor tidak akan mampu membuat publikasi lebih dari 5 setiap tahunnya tanpa mempunyai seorang pun mahasiswa S3. Sehingga kurikulum pun akan diubah berbasis riset, dimana beban kuliah mahasiswa pasca sarjana tidak akan padat setiap minggunya dan lebih difokuskan untuk riset. Beban kuliah saya sewaktu menempuh program S2 adalah 42 SKS sedangkan program S3 saya sekarang hanya 36 SKS. Jadi sebenarnya S2  di Indonesia itu setara dengan S3 di Korea… hehehe. Akhirnya universitas riset yang didamba-dambakan akan terwujud dengan sendirinya.  Selain itu harapannya dengan adanya surat edaran Dirjen Dikti ini juga akan diikuti dengan melimpahnya dana riset di Indonesia dan tentunya tanpa sunat kanan dan kiri :).

Publikasi ilmiah untuk mahasiswa S1 cukup bagus tetapi akan kurang bijak jika menjadi syarat kelulusan. Salah satu alasan dari Dirjen Dikti mengapa mewajibkan publikasi ilmiah sebagai syarat lulus S1 adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa tersebut. Tujuannya sangat baik tetapi tidak menyentuh akar permasalahannya mengapa mahasiswa S1 kurang mempunyai kemampuan menulis. Setidaknya ada beberapa faktor, salah satu faktornya adalah lingkungan perguruan tinggi tersebut. Hal ini saya alami sendiri, pada saat saya kuliah pertama kali, universitas tempat saya kuliah begitu kondusif sekali suasananya untuk belajar dan menempa diri. Selain itu juga didukung dengan fasilitas perpustakaan yang memadai dan nyaman. Perpustakaan adalah tempat favorit saya menunggu jam kuliah berikutnya. Banyaknya membaca tentu akan berkorelasi positif dengan kemampuan menulis. Pada saat itu kemampuan menulis saya cukup baik dan lancar. Perbedaan sangat terasa begitu saya memasuki universitas kedua saya. Lingkungan yang tadinya kondusif untuk belajar berganti menjadi lingkungan yang kondusif untuk bermain. Kondisi perpustakaan juga sangat jauh dari memadai dan nyaman sebagai tempat untuk membaca. Pada saat itulah kemampuan saya menurun drastis. Faktor lainnya adalah kelemahan sistem pendidikan dasar dan menengah yang tidak bisa menghasilkan siswa yang siap menjadi mahasiswa. Sehingga pada saat mereka memulai kuliah, banyak saya dapati tidak memiliki kemampuan menulis laporan dengan baik dan yang lainnya. Hal lainnya yang membuat saya tidak setuju adalah mahasiswa S1 tidak seharusnya melakukan penelitian secara ideal sehingga bisa dipublikasikan. Mereka bukanlah peneliti ataupun mahasiswa pasca sarjana yang memang tugasnya meneliti. Dosen saya pernah berkata “Hanya mahasiswa S1, masa kita berharap mereka melakukan penelitian seperti S2 atau S3.” ketika berdiskusi dengan seorang peneliti yang sedang membimbing mahasiswa S1. Sebagai perbandingan, mahasiswa S1 di Korea melakukan tugas akhir secara bersama dalam kelompok dengan dibimbing oleh mahasiswa pasca sarjana. Tugas akhir tersebut tidak terlalu berat dan output akhirnya adalah poster yang dilombakan.

Advertisements
This entry was posted in Graduate Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s