Thailand Journey

Ramadhan hari ke empat disini, Alhamdulillah. Mau berbagi cerita sedikit tentang perjalanan conference pertama (norak banget yah). Kalau dibandingin dengan anak-anak PhD yang lainnya, mungkin saya yang paling kasihan karena baru sekali ikut international conference dan itu juga bukan di Europe atau US atau Australia dan yang lainnya tapi negara asia tenggara Thailand. Nanti akan saya sampaikan mengapa saya jarang ikut international conference di luar Korea. Nama conference-nya ISEPD bertempat di kota Chiangmai, sebelah utara Bangkok pada tanggal 8-11 Januari 2011 yang lalu. Singkat cerita, pada pertengahan 2010 Juragan dengan tiba-tiba menyuruh untuk membuat abstract untuk conference tersebut. Kebetulan karena berangkat bersama dengan anak S2 dan bahasa inggrisnya acak kadut, akhirnya titah Juragan untuk bikin dua abstract yang bikin kepala saya cenut-cenut.

Kami berangkat ke Thailand menggunakan jasa travel. Travel ini bukan perjalanan biasa tapi memang khusus dalam rangka conference. Kami sampai di Chiangmai international airport tanggal 7 Januari malam harinya. Selama perjalanan dari airport menuju hotel saya seperti merasa di Indonesia. Persis banget seperti perjalanan malam kalau pulang kerja dari PPF LIPI di PUSPIPTEK ke rumah saya di BSD. Bus yang kami tumpangi pun terlihat unik, dimana posisi duduk penumpangnya jauh lebih tinggi dari posisi duduk sopir. Perkiraan saya, seperti bis tingkat tanpa tingkat pertamanya.

Bis di Thailand

Tuk tuk sejenis Bajaj kalo di Jakarta mah

Conference dimulai pada tanggal 8 malem dengan welcome party so siangnya kami jalan-jalan disekitar Chiangmai bersama rombongan travel. Pertama, kami menuju desa yang terletak di lereng bukit/gunung. Perjalanannya seperti ke puncak dengan rute yang lebih menyeramkan. Oh iya, karena rutenya yang agak berbahaya, jadi kami bertukar kendaraan dari bis dengan sejenis SUV pickup di kaki bukit/gunung tersebut. Terang aja orang-orang Korea itu excited banget, heboh karena pengalaman pertama naik mobil pickup yang isinya penumpang :D. Bagi saya, waktu jaman SMP dulu, kalau mau pulang sekolah gratis saya naik pickup… hehehe. Di desa tersebut terdapat budidaya tanaman opium, inilah pertama kali saya melihatnya. Cukup bagus menurut saya tapi entah kenapa bisa digunakan jadi semacam obat bius. Besoknya diisi dengan kesibukan conference (lebih tepatnya belajar untuk conference… hehehe). Ini adalah conference pertama saya dimana saya harus mempresentasikan makalah saya secara oral and in english. Jelas grogi banget, ditambah komen juragan yang bilang pronunciation saya kurang jelas, terlalu cepet, badan gendut dan ganteng (apa hubungannya yah). Alhamdulillah kepercayaan diri itu muncul pada saat conference hari pertama, dimana saya liat banyak juga yang bahasa inggrisnya lebih hancur dari saya. Ada yang seperti menghapal apa yang akan dipresentasikan tapi pas sesi tanya jawab mengerti pertanyaan saja tidak. Disela-sela waktu conference, saya ngobrol dengan Juragan, kira-kira seperti ini percapakannya:

Juragan: gmana, seru kan ke Thailand?
Saya: Iya gan, saya seperti merasa di Indonesia
Juragan: bagus lah kalo gitu. kalau saya sendiri tidak terlalu menikmati karena banyak pikiran. (memperlihatkan dua manuscript saya yang ditolak). Harusnya bisa menikmati tapi gara-gara ini saya jadi kepikiran terus.
Saya: (ngerasa bersalah) iya Gan nanti saya revisi biar bisa disubmit ke yang lain. Bagaimana conference Gan? sepertinya tidak terlalu banyak tema-tema yang sesuai dengan riset kita di lab.
Juragan: Iya, terlalu lebar neh tema conferencenya. Sebenernya saya ga terlalu suka ikut conference begini. Pertama jelas biaya, trus kedua kalau kejauhan seperti di Europe atau US itu suka jetlag, makanya milih yang deket-deket aja.
Saya: Nah terus kenapa Agan memutuskan ikut conference ini?
Juragan: Gara-gara ada teman kamu yang protes, kenapa lab kita ga pernah ikutan international conference. Jadi aja saya bawa kamu kesini. (oh ternyata ini toh alasannya kenapa akhirnya kita ikut conference… hehehe).

Malam harinya, kami bersama beberapa Juragan Korea mencari makan malem di sekitar  Night Market di dekat hotel tempat kami menginap. Ada kejadian lucu, dimana pada saat mau menyebrang, mereka semua menunggu sinyal di lampu merah (seperti yang ada di korea) tetapi setelah lama menunggu mereka baru sadar kalau sinyal untuk menyebrang itu ga ada dan mulai kebingungan bagaimana caranya menyebrang. Ditengah kebingungan tersebut, saya muncul sebagai pahlawan dengan mengajarkan cara menyebrang ala Indonesia dan Thailand… hehehehe. Di Night Market, teman saya membeli buah-buahan banyak sekali, seperti yang tidak pernah makan buah-buahan. Baru tahu dia kalau negara tropis itu kaya banget sama buah-buahan… hehehe. Sampe ngeliat buah kelapa aja kaya ngeliat ferari (jauh banget yah perumpamaannya). Sayang keinginan juragan mencicipi durian tidak terlaksana karena lokasinya yang lumayan jauh, mungkin juga sedang tidak musimnya.

In action (padahal mah ga ada yang nonton)

Hari terakhir conference merupakan acara jalan-jalan. Ada dua pilihan tempat, pertama ke daerah Chiangrai yang agak jauh dan pilihan kedua atraksi gajah dan bamboo rafting. Teman saya memilih ke Chiangrai, saya sendiri lebih memilih ke atraksi gajah. Akhirnya kami semua pergi ke atraksi gajah karena juragan juga memilih pilihan kedua. FYI, hampir semua orang korea yang menghadiri conference terebut memilih opsi pertama. Akhirnya juragan yang bete selama conference gara-gara manuscript saya ditolak jadi ceria banget. Pengalaman naek gajah, dokar dan bamboo rafting aka rakit merupakan long life story kata beliau. Terus terang yang bikin saya penasaran adalah bamboo rafting, bayangan saya kita akan melewati jeram-jeram yang dahsyat tapi yang tidak terbayang seperti apa bentuk bamboo yang dinaiki nanti. Pas melihat bamboo rafting itu ternyata rakit, ya Allah… ini mah maenan saya waktu masih SD. Secara saya tinggal tidak jauh dari sungai cisadane dan belum ada jembatan pada saat itu, maka rakit adalah alat transportasi utama. Melihat para juragan yang excited banget, saya cuma ketawa-ketawa sendiri aja dalam hati. Menariknya, hal-hal seperti ini bisa dijadiin obyek wisata sama Thailand, kenapa pemerintah Indonesia ga kepikiran yah? cukup aneh emang. Kami juga berkunjung ke Long Neck Tribe. Sebenarnya leher merka ga panjang, cuma bahu mereka yang tertekan ke bawah sehingga ada kesan lehernya lebih panjang. Fungsi awal dari ring tersebut adalah untuk melindungi dari serangan binatang buas terutama harimau tapi seiring dengan berjalannya waktu fungsi tersebut jadi berubah menjadi perhiasan.

Bamboo rafting aka rakit

Suku leher panjang bersama Juragan

Gajah naek gajah

Entah apa karena pengetahuan sejarah saya yang kurang bagus atau emang sudah lupa, ternyata nenek moyang orang Thailand itu salah satunya dari Indonesia. Saya amatin ada benernya juga. Dari segi perawakan tubuh hampir sama, bahkan banyak yang mengira kalau saya ini orang Thailand juga selama saya disana. Disamping itu, tulisan Thailand  kaya tulisan Indonesia jaman kerajaan dulu.

Kami akhirnya pulang ke korea tanggal 12 Januari tengah malam dan sampai di Bandara incheon pagi harinya. eniwei, Gyeongsan hari ini panas banget setelah beberapa hari hujan. Cuaca yang ga cepat berganti ini emang bisa bikin gampang sakit.

Advertisements
This entry was posted in Graduate Life and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Thailand Journey

  1. Gian says:

    kang, tulisan baru dongs….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s