3 Desember 2015

Diluar kebiasaan, tadi malam saya tidur nyenyak sekali. Padahal otak saya masih berputar cukup keras mencoba memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan reviewer dengan elegan supaya paper diterima. Bahkan sempat berpikir, setelah si bungsu tertidur, saya akan langsung bangun dan kembali bekerja sampai subuh.

Ternyata memang rencana tidak selalu sama dengan kenyataan… hehehe… Saya malah ikut tertidur pulas dengan si bungsu. Setelah terbangun, saya mendapati banyak notifikasi di ponsel saya. Ada satu notifikasi yang membuat saya sedikit melow pagi ini, “Gandjar Akhirudin have birthday today. Help him celebrate!”, begitu kata si Facebook. Saya kembali teringat bayangan adik saya tersayang. Seharusnya sekarang umurnya 28 tahun, mungkin juga sudah menikah. Tapi kembali, manusia hanya bisa berencana dan akhirnya kita hanya mengikuti rencana Allah.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu waghsilhu bilmaa’i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar.

Doa gw buat lu Jar…

 

Posted in Lain-lain | Leave a comment

Sintering

Saya cukup terharu ternyata banyak yang datang ke blog ini mencari tentang bagaimana proses pembuatan keramik maju dari Google. Kurang amanah rasanya dengan sedikit ilmu yang dipunyai ini jika tidak berbagi. Sebenarnya draft tulisan ini sudah saya buat sekitar akhir tahun 2013, terus saya lupa kalau saya punya blog… hahahaha… Continue reading

Posted in Lain-lain | Tagged | 2 Comments

2014

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala tuhan semesta alam, yang tidak pernah putus memberikan nikmat kepada semua mahluknya, baik yang syukur maupun kufur. Saya bersaksi tiada ilah yang patut disembah kecuali Allah azza wa jalla. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam, keluarganya dan juga para sahabatnya yang mulia. Generasi emas Islam yang tiada bandinganya, yang dibimbing dan berjuang bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa salam demi tegaknya kalimat tauhid. Ya Allah, semoga hambaMu ini bisa mempunyai keimanan seperti para sahabat Rasulullah.

Tidak berasa sebentar lagi tahun 2014 sudah mau habis, diganti dengan tahun yang baru. Benernya buat saya pribadi pergantian tahun tidak terlalu penting kecuali menunjukan semakin dekatnya dengan kematian. Tahun 2014 adalah tahun duka buat saya, tahun dimana saya ditinggal oleh orang-orang yang saya sayangi untuk selamanya. Nenek saya meninggal pada bulan Maret dan adik saya meninggal pada bulan Agustus. Dua kejadian ini cukup membuat saya goyah, terlebih mereka meninggal dengan mendadak tanpa di dahului sakit atau kejadian lainnya. Hal ini pula kembali mengingatkan saya kalau umur itu rahasia Allah dan tidak kenal muda atau tua, jika sudah sampai saatnya maka tidak akan mundur ataupun maju sedetik pun.

Nenek Djanimah layaknya orang tua kedua buat saya, karena beliau lah yang mengasuh saya pada masa sebelum sekolah. Jadi ceritanya pas orang tua saya pindah tugas ke Tangerang, saya tetap tinggal di Bandung di urus Kakek dan Nenek sampai saya mau sekolah. Alhamdulillah saya masih sempat bertemu Nenek sebelum keberangkatan saya ke Jepang. Nenek pun memberikan nasehat untuk selalu tegar hidup di perantauan yang jauh dari sanak saudara. Alhamdulillah Nenek juga masih sempat bertemu dengan cicit-cicitnya. Pada saat kami berpamitan pulang, Nenek bilang “mudah-mudahan masih ada umur bisa bertemu lagi pas Novi pulang dari Jepang” :(. Allahumaghfirlaha warhamha wa’aafihi wa’fu ‘anha. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa Nenek, dimudahkan hisabnya, dilapangkan kuburnya dan ditempatkan ditempat yang tertinggi bersama orang-orang yang sholeh dan sholehah.

Adik saya Ganjar Akhirudin ini memang spesial, orangnya rame banget, suka sok akrab sama orang baru yang akhirnya bisa akrab beneran. Teman saya berantem, lebih karena sifat-sifatnya yang hampir sama dengan saya (berasa lihat cermin kalau lihat kelakuannya). Sampai akhirnya dia berubah, entah kenapa nih anak mulai mau mengaji dan mendengarkan kajian-kajian Islami. Kajian yang paling dia senangi itu kajiannya Ustadz Armen Halim Naro yang judulnya Hati yang Berjiwa Hanif. Sekarang saya tahu kenapa hati adik saya yang satu ini lembut sekali, mudah sekali tersentuh dan tidak pernah menolak kebenaran yang datang kepadanya. Jauh sekali dengan hati saya yang kadang masih tersimpan ego untuk mengakui kebenaran… astaghfirullah… Dari kajian ini juga sepertinya adik saya belajar mengenai amalan unggulan yang tidak ada seorang pun yang tahu. Iya, tidak ada seorang pun yang tahu, meskipun kami adalah keluarga terdekatnya, meskipun saya adalah tempat curhatnya. Jadi adik saya ini meminta izin ke Bapak saya untuk berangkat ke Jalur Gaza yang sedang digempur habis-habisan sama Israel. Kata Bapak saya, ga harus berangkat ke Gaza untuk berkontribusi buat saudara-saudara muslim di sana. Dan adik saya ini pun sedang mempersiapkan pernikahannya tahun depan. Dia mulai menabung dan juga memperlayak rumahnya untuk ditinggali kelak dengan Istrinya. Ganjar pun sempat cerita ke saya mengenai bagaimana Mezut Ozil menyumbangkan hadiah uang yang didapatkannya untuk Palestina. Kemudian saya nasehati untuk juga bisa menyumbang sesuai dengan kemampuannya. Sepeninggalnya, orang tua saya ke bank untuk mengurus penutupan rekeningnya. Kagetnya orangtua saya karena tabungannya hanya tinggal beberapa puluh ribu rupiah. Setelah dilihat recordnya, ternyata adik saya rutin menyumbangkan tabungannya dan penghasilannya dari bekerja selama tiga bulan terakhir ke sebuah lembaga kemanusian untuk palestina. Allahu Akbar, dia habiskan semua tabungannya yang seharusnya dipakai buat persiapan nikah untuk membantu saudara-saudaranya di Palestina. Dari segi jumlah, lumayan besar untuk ukuran bujangan yang hidup sendiri mah. Amalan yang cuma dia dan Allah yang tahu, tanpa kami semua tahu. Dan hari ini adalah hari lahirnya, met milad brother, semoga surga menjadi hadiah terindah untukmu. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.

Tsukuba, 3 Desember 2014

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Posted in Lain-lain | Leave a comment

Kebutuhan dasar laboratorium keramik maju

Mulai nundutan di kantor, efek Athifa yang bangun tengah malem trus ga mau tidur lagi. Walhasil, sukses tidur habis subuh dan jam 7an pagi dah diteriakin sama Istri untuk bangun… hehehe. Niatnya tadi pagi mah pengen lanjut eksperimen tapi gagal gara-gara ada yang memakai tungku dan sampelnya belum dikeluarin dari kemaren. Mau bilang ke orangnya agak sungkan, soalnya beliau peneliti senior gitu deh. Continue reading

Posted in Lain-lain | Leave a comment

Merantau part 2

Bismillahirrohmanirrohim

Setelah merantau 4 tahun di negeri ginseng, akhirnya saya pulang ke Indonesia. Saya menikmati indahnya dan enaknya makanan Indonesia selama hampir 3 bulan (jangan tanya berat badan saya berapa yah… hehehe). Melihat arus mudik yang luar biasa pada saat perjalanan pulang kota dari Banjarsari, Ciamis yang hijau ke Tangerang yang panas. Kemudian mudik ke Kedurang, Manna, Bengkulu dari Tangerang yang waktu tempuhnya hampir 24 jam (termasuk istirahat yah) untuk bertemu dengan kakek dan nenek tercinta setelah hampir 6 tahun tidak berjumpa. Melewati hutan bukit barisan yang masih sangat asli, sehingga tidak ada yang berani melewatinya pada saat malam hari. Kedurang masih seperti yang dulu, tidak banyak mengalami perubahan. Jauh sekali dengan BSD yang sangat berbeda sepulang saya dari menempuh studi di Korea dibandingkan dengan 4 tahun yang lalu. Terasa sekali pembangunan tidak merata antara jawa dan luar jawa, sehingga sangat wajar banyak orang luar jawa yang mencoba mengadu nasib mencari sekarung berlian di Jawa. Selama hampir 2 bulan, aktivitas saya di Indonesia hanya mengasuh dan bermain dengan anak-anak, what a wonderful life :). Continue reading

Posted in Family, Japan Life | 1 Comment

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Optimisme yang luar biasa, mungkin itu gambaran sesosok Alfian waktu pertama kali datang ke Korea untuk melanjutkan studi S3 nya di Yeungnam University. He said, “I’ll do my best and graduate as soon as possible”. Suasana kampus saat itu begitu menyenangkan dan nyaman sekali. Hampir dua bulan saya tidak mengerjakan apa-apa, masa orientasi yang begitu indah. Semuanya mulai berubah begitu juragan memberikan sebuah paper, “please find the new sintering aids for SiC based on thermodynamic approach”. Continue reading

Posted in Family, Graduate Life | 1 Comment

Studi di Korea

Ternyata susah sekali untuk istiqamah menulis… hehehe. Ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2013. Kesibukan yang membuat saya sedikit susah untuk menulis di blog ini (pembelaan… hehehe). Semester ini adalah semester 8 artinya hampir 4 tahun saya sekolah di Korea. Dalam 4 tahun ini, banyak banget perubahan yang terjadi. Ternyata, perkembangan itu cepat sekali yah… hehehe. Continue reading

Posted in Graduate Life, Korean Life | Tagged , , | 5 Comments